Pekerjaan sebagai mediator dalam penyelesaian konflik syariah melibatkan membantu para pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencapai kesepakatan yang adil dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Tugas utama meliputi memfasilitasi pertemuan antara para pihak, mendengarkan semua argumen dan pendapat dari masing-masing pihak, dan membantu para pihak untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan.
Selain itu, pekerjaan ini juga melibatkan penelitian dan pemahaman mendalam tentang hukum syariah serta memiliki keterampilan komunikasi dan negosiasi yang baik.
Profil orang yang cocok untuk menjadi mediator atau penengah dalam penyelesaian konflik syariah adalah seseorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang hukum syariah, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan mampu menjaga kesetaraan dan keadilan dalam menyelesaikan konflik.
Kemampuan negosiasi yang tinggi, kepekaan terhadap perbedaan budaya, dan keahlian dalam mengatasi konflik adalah juga faktor penting dalam menjadi seorang mediator atau penengah.
Jika kamu adalah seorang yang tidak suka berurusan dengan konflik, tidak dapat mempertahankan netralitas, dan tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kemungkinan kamu tidak cocok menjadi mediator dalam penyelesaian konflik syariah.
Ekspektasi masyarakat terhadap mediator dalam penyelesaian konflik syariah adalah mereka bisa sepenuhnya menyelesaikan konflik tanpa adanya pertentangan atau kekecewaan di antara kedua belah pihak, padahal kenyataannya mediator hanya bertugas untuk membantu proses negosiasi dan tidak bisa memaksa hasil yang diinginkannya.
Realita profesi mediator dalam penyelesaian konflik syariah adalah mereka harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hukum syariah serta kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi yang baik. Tidak semudah yang dibayangkan, proses penyelesaian konflik seringkali memakan waktu dan adanya ketidaksepakatan antara para pihak.
Perbedaan dengan profesi lain yang mirip, seperti hakim atau arbitrator, adalah mediator bertindak sebagai pihak netral yang berupaya membantu kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan secara sukarela. Sementara hakim atau arbitrator memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan atau mengadili konflik secara resmi.